Jumat, 17 Agustus 2012

Organ yang Bisa Didonorkan Saat Hidup dan Sudah Mati


Jakarta, Sebagian besar organ dan jaringan tubuh manusia bisa didonasikan setelah si pendonor meninggal dunia. Namun ada beberapa organ dan jaringan yang dapat didonorkan pada saat donor masih hidup. Apa saja?

Pada awalnya, ilmu kedokteran hanya memungkinkan untuk melakukan transplantasi atau cangkok dari organ pendonor yang sudah meninggal dunia (mati batang otak).

Tapi dengan meningkatnya kebutuhan untuk transplantasi organ dan berkembangnya teknologi kedokteran, donor hidup pun meningkat sebagai alternarif untuk donor kadaver (jenazah).

Menurut Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, dari satu tubuh manusia dapat menyediakan 50 kesempatan untuk proses transplantasi atau pencangkokan organ.

"Donor kadaver (orang yang sudah meninggal) jarang dipakai organnya. Di Indonesia, 100 persen cangkok organ masih pakai donor hidup," kata Dr Nur Rasyid SpU dari departemen urologi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), saat dihubungi detikHealth, Rabu (25/4/2012).

Menurut Dr Rasyid, pengambilan organ untuk transplantasi dari donor kadaver hanya bisa dilakukan ketika jantungnya masih berdenyut. Artinya saat diambil, masih ada darah yang mengaliri organ tersebut sehingga masih berfungsi dan belum mengalami kerusakan.

Kadaver yang diambil organnya untuk pencangkokan biasanya adalah pasien-pasien yang mengalami kematian batang otak. Pasien-pasien ini secara teknis sudah meninggal karena otaknya sudah tidak berfungsi, namun beberapa organ seperti jantung masih bisa bekerja dengan bantuan alat.

Organ yang berasal dari donor meninggal seperti korban kecelakaan misalnya, biasanya sudah tidak bisa dipakai karena rusak dalam perjalanan ke rumah sakit. Selama tidak dialiri darah, organ-organ tersebut rentan mengalami kerusakan sehingga tidak bisa dicangkokkan.

Donor hidup

Berikut organ dan jaringan manusia yang bisa didonorkan saat manusia hidup antara lain, seperti dilansir organdonor.gov, Rabu (25/4/2012):

1. Ginjal
Individu yang hidup dapat menyumbangkan salah satu dari dua ginjalnya dan ginjal yang tersisa masih dapat menyediakan fungsi yang dibutuhkan untuk menghilangkan limbah dari tubuh. Sumbangan ginjal tunggal adalah prosedur donor hidup yang paling sering dilakukan.

2. Hati
Donor hidup juga dapat menyumbangkan salah satu dari dua lobus hati. Hal ini dimungkinkan karena sama seperti sel-sel kulit tumbuh kulit baru, sel-sel hati pada lobus sisa hati bisa tumbuh kembeli atau beregenerasi sampai hati hampir berukuran seperti aslinya. Regenerasi hati terjadi dalam waktu singkat di keduanya, donor hati dan penerima hati.

3. Paru-paru, pankreas dan bagian dari usus
Donor hidup juga memungkinkan untuk mendonorkan sebuah paru-paru atau bagian dari paru-paru, bagian dari pankreas dan bagian dari usus. Meskipun organ-organ ini tidak beregenerasi, baik porsi organ yang disumbangkan dan bagian yang tersisa pada donor sepenuhnya dapat berfungsi.

4. Jantung
Yang mengejutkan, organ jantung pun dapat disumbangkan saat masih hidup, tetapi hanya jika si pendonor menerima jantung pengganti. Ini terjadi hanya bila seseorang dengan penyakit paru-paru parah dan jantung yang berfungsi normal akan memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup jika ia menerima transplantasi gabungan jantung dan paru-paru.

Akibatnya, si penerima transplantasi jantung dan paru-paru itu, jika jantungnya berada dalam kondisi baik, ia bisa menyumbangkan jantungnya kepada individu lain yang hanya memerlukan transplantasi jantung.

5. Jaringan
Jaringan yang bisa disumbangkan oleh donor hidup adalah amnion, kulit, tulang, darah, sumsum darah, sel induk darah, dan tali pusat.

Amnion bisa disumbangkan setelah melahirkan, kulit dapat disumbangkan setelah operasi tertentu, seperti abdominoplasties, dan tulang setelah operasi lutut dan pinggul.

Donor kadaver (mayat)

Sedangkan organ dan jaringan yang bisa didonorkan setelah meninggal dunia, antara lain seperti dilansir About.com:

Organ
  1. Mata
  2. Ginjal
  3. Paru-paru
  4. Jantung
  5. Hati
  6. Pankreas

Jaringan
  1. Tulang
  2. Katup jantung
  3. Kulit
(sumber: Merry Wahyuningsih,AN Uyung Pramudiarja - detikHealth)

Tidak ada komentar: